Search Engine

Untuk Mencari file / blog yang anda inginkan silahkan masukan kata kunci / tag yang anda inginkan

Recent Posts

Monday, May 25, 2009

"Papa tadi nyanyi lagu apa?"

"Papa tadi nyanyi lagu apa?"


oleh Yanza Kawa





------------ --------- -

Usia anak laki-laki kami ketika itu belumlah genap 2 tahun.



Tapi si kecil sudah bisa bicara dan berkomunikasi dengan kami ataupun orang lain yg dikenalnya.



Tingkah polah dan "kenakalan" khas anak seusianya, menjadi penghibur hati kami selaku orang tuanya.



Kebiasannya sebelum tidur yakni dinyanyikan terlebih dahulu.



Maka lagu anak-nak tempo doeloe spt "nina bobok", "tidurlah tidur", dll menjadi lagu

"wajib" buatnya sebagai pengantar tidur.



kadang lagu anak2 tsb dimodifikasi atau bahkan "terpaksa" mencipta sendiri lagu yg dinyanyikan sesuai dgn sikon dan kebutuhan.



Maksudnya, semakin lama si kecil terlelap, makin banyak lagu yg

dinyanyikan dan ini menuntut kami orang tuanya untuk makin "kreatif"

dlm menyanyi.



(saya aja bosen kalau harus nyanyi lagu yg sama...apalagi si kecil yg mendengarkan. ..he..he. ..)



Suatu malam saya kebagian mengendong si kecil untuk ditidurkan.



Maka "ritual" menyanyikan lagu pun dimulai. Awalnya saya menyanyikan lagu-lagu "standard" yg biasa dinyanyikan baginya.



Karena si kecil belum juga terlelap, kemudian timbul keinginan saya

untuk "menyanyikan" kalimat tahlil buatnya. Maka terlantunlah kalimat

"laa ilaaha iLlallaah" dengan perlahan dan berulang-ulang.



Si kecil yang sebelumnya tengah "terlayang-layang" (kondisi sesaat

sebelum tidur/setengah sadar) terlihat bereaksi. Tanpa saya duga dia

berujar, "papa tadi nyanyi lagu apa?" sontak bagai kena sambar gledek di malam buta saya terperangah dgn pertanyaannya itu.



saya tak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada anak seusia itu tentang Allah dan nilai-nilai agama kepadanya.



Pertanyaan polos dari hati si kecil yg masih bersih tsb telah menyadarkan kekeliruan saya selama ini.



Boleh jadi selama ini saya sbg orang tua hanya memperhatikan

bagaimana terpenuhinya gizi terbaik bagi anak, memberikan permainan dan

hiburan, memikirkan bagaimana agar si anak mendapatkan pendidikan dan

pelayanan kesehataan berkualitas, dll yg bersifat keduniawian, tapi

lupa akan tugas utama untuk mengenalkan kepada Tuhannya, Allah Swt,

penciptanya dan Penguasa jagat raya ini.



Sebagai orang tua, saya lah orang pertama yg bertanggung jawab utk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai tsb kepadanya.



Tiadalah artinya meninggalkan harta berlimpah kepada keturunan kita

bila mereka jauh dari tuntunan agama, rusak aqidah dan akhlaknya.



Karena dgn agamalah yg menyelamatkan mereka tidak hanya di dunia ini, tapi di akhirat kelak.



------------ -------



Kisah di atas adalah kejadian sekitar dua tahun lalu, saat kami msh di

negeri yang penduduknya mayoritas non Islam/sekular. Sekarang anak

laki2 saya telah berusia sekitar 3 tahun dan kami sdh berada di

lingkungan yg lebih islami (negara berpenduduk mayoritas islam). Di

rumah kadang saya ajak si kecil mengaji. Sesekali saya bawa ke

masjid/surau. Dia juga sdh pandai mengikuti saya shalat, walau

gerakannya belum sempurna. sudah bisa melafalkan (dgn sedikit

cadel)surah al Fatihaah dan ayat-ayat pendek lainnya. Bisa menirukan

suara adzan bila kebetulan terdengar kumandang adzan dari masjid atau

televisi.



Saya sadar, perjalanannya masih panjang. Entah bagaimana kerasnya cobaan hidup 20 atau 30 tahun mendatang.



Yang jelas, kami sebagai orang tua telah berusaha memberikan bekal dan lingkungan yg mendukung buatnya dalam beragama.



Sehingga saat di padang mashar nanti, tak ada lagi "gugatan" dari si

anak kepada kami selaku org tua karena melalaikan amanah dari Allah SWT.



Alhamdulillah, sekarang bila saya mengucapkan kalimat tahlil atau

pun berdzikir, si kecil kadang ikut pula melantunkannya dan yg

melegakan hati, tak ada lagi terlontar pertanyaan: "Papa tadi nyanyi lagu apa?"



oggix.com : Free Shoutbox & Complete Blog Tools




Istri Sakit, Suami Bagaimana?

Istri Sakit, Suami Bagaimana?


oleh Halimah



Menjalani bahtera rumahtangga merupakan amal sholeh yang dapat dilalui dengan aman bila disertai dengan cinta. Seorang iburumahtangga yang notabene adalah istri dari seorang suami, akan menggeluti kegiatan kesehariannya dengan penuh tanggungjawab. Memberikan pelayanan dan kesediaan untuk selalu ada di setiap waktu bagi penghuni rumah. Tidak ada kata yang lebih indah untuk mengungkapkan, selain rasa CINTA yang dalam terhadap orang-orang yang dikasihinya. Kadang waktu yang tersisa tak cukup untuk membuatnya menghela napas.

Tapi itu tak menjadikan dirinya merasa sebuah pengorbanan. Cintanya murni, tak pernah terlintas sedetik pun tuk mengharapkan balasan. Semuanya dikerjakan dengan ikhlas. Cintanya tak jua luntur walau kadang penghuni rumah, seringkali memberikan sinyal tak suka akan bantuannya. Semuanya di terima dengan lapang dada. Begitu pula bila suaminya, yang hanya bisa memberikan kritikan tanpa mengurangi beban kerja rutinnya. Semuanya hanya bagai angin yang berhembus sejenak. Tak ada masalah.

Sang istri yang ikhlas ini akhirnya jatuh sakit. Semua pekerjaan kesehariannya menumpuk di setiap ruang. Tak ada sentuhan dari orang sekitarnya, hanya ada sedikit lirikan. “Ah… ibu sedang sakit, bagaimana dengan kami? Anak-anaknya kebingungan. Suaminya pun tak kalah sibuknya. Sibuk dengan rasa cemas, terhadap istrinya yang tergolek lemah. Memberikan semangat, agar tak usah bersedih- semuanya cobaan dari Allah S.W.T. Maka sang suami pun mengambil amanah sang sang istri dalam urusan domestic rumahtangga. Karena tak terbiasa dengan kondisi itu, maka dia pun merasakan beban yang sangat berat. Sebelum shalat subuh dia harus membangunkan anak-anaknya.

Biasanya, dialah yang dibangunkan. Ketika jam menunjukkan jam enam pagi, maka dia pun kerepotan untuk menyiapkan sarapan tuk diri dan penghuni rumah. Biasanya, dia tinggal menikmati. Bila tak sesuai selera, maka sebuah komentar yang kadang memanaskan telinga sang istri yang telah kepayahan. Menyiapkan anak-anak untuk segera mandi, berpakaian dan sarapan ternyata sang suami merasakan pekerjaan yang sangat berat. Selama ini dia tak pernah sedikitpun memberikan ulurannya tuk kegiatan ini. Ketika harus menjalaninya, maka barulah dia mengetahui bagaimana sibuknya sang istri tercinta saat subuh hingga keberangkatan mereka keluar dari rumah.

Istri yang sakit tak jua kunjung sembuh. Batas kesabaran sang suami berada di titik puncak. “Kalau sakit jangan terlalu di manja. Jangan tidur melulu, sakitnya tambah payah!” Suami sudah tak mampu mengontrol emosi, padahal sang istri baru sakit dua minggu. Sementara pekerjaan rumah telah di jalani lebih dari lima tahun. Tentu saja perbandingan waktu yang tak seimbang. Tapi, suami sudah kepayahan.

Suami yang biasa hanya berkomentar, tentu saja akan kerepotan. Dia tak siap untuk kejutan pahit ini. Istri yang super perkasa selama ini, ternyata punya batas kekuatan. Orang-orang yang dicintainya, akhirnya mengeluh dengan keadaannya. Istri yang sakitpun, tak bisa berdialog dengan mereka dengan hati yang berbunga. Karena orang disekitarnya memasang wajah penuh cemas dan rasa tak sabar, akan kesehatannya. Semuanya dirundung mendung, menantikan saatnya turun hujan kasih dari sang bunda. Ayahnya, ternyata tak setelaten ibunya dalam menanggapi semua kebutuhan dan kemanjaan mereka. Mereka pun akhirnya stress!

Mau cari pembantu? Sang suami tak punya cukup uang. Sementara dia sudah di ujung tanduk. Pekerjaan yang dua mingguan ini dirasanya, telah membuatnya lebih tua dari usianya. Tak pernah terlihat lagi senyum maupun candaan pada anak-anaknya. Semuanya dalam koridor TEGANG!

Beberapa kejadian ini telah saya lihat di sekitarku. Saat tinggal di kota Samarinda, maupun saat ini di kota Sengata. Suami yang biasanya memandang remeh pekerjaan istrinya yang tinggal di rumah. Dan memaklumi diri untuk tidak turut terjun ke daerah domestik, karena merasa telah berjasa besar menafkahi keluarga yang di cintainya. Tak ada ucapan terimakasih, walau pun sang pujaan hati telah bersusah payah menyediakan semua kebutuhan hariannya. Semuanya dalam pemakluman :” Memang tugasnya!”.

Sungguh kasihan mendapatkan suami dengan type begini, tak ada rasa sayang yang murni. Inginnya di mengerti, tapi tak mengerti keadaan pendampingnya. Dengan beberapa orang anak yang berbeda karakter, tentu saja dengan pelayanan beberapa karakter pula ditambah dirinya yang punya karakter yang lain. Tak pernah terlintas sejenakpun untuk membuat sebuah kejutan :”Hari ini, ibu tak usah repot di rumah. Kami semua akan mengerjakannya!”. Hari libur, merupakan hari yang harusnya dilewati dengan nyaman. Sang istri malah mendapatkan pekerjaan tambahan : Memasak makanan khusus, yang tentu saja membuat energi harus dilipat gandakan.

Sang istri yang telah sembuh, akan membuat rona bunga mekar di setiap sudut rumah. Membuat wajah-wajah yang mendung menjadi bersinar kembali. Anak-anakpun dapat merasakan kegembiraan yang telah hilang beberapa hari. Sang ayahpun tak kalah gembiranya, di kecupnya kening istri :”Jaga kondisi ya…” Suami pun memberikan sentuhan hangat, karena beban itu telah lepas dari pundakya. Hem!

Istri yang sakit untuk beberapa hari, ternyata punya hikmah sendiri buat penghuni rumah. Anak-anak telah mengerti pengorbanan dan CINTA sang bunda padanya. Suami pun mengerti, betapa berat pekerjaan sang tercinta dalam mengelola urusan rutin rumah mereka. Semuanya dalam keadaan saling memahami satu sama lainnya. Sangat indah suasana itu. Menggoreskan rasa aroma bunga di hati.

Rona yang indah hanya berjalan beberapa jeda waktu. Kegiatan sang istri berulang kembali seperti biasanya. Kebiasaan lama mewarnai kembali kegiatan hariannya Semuanya kelihatan wajar, hingga pada satu titik waktu – sang bunda harus pulang kehadirat Sang Ilahi. Bila itu terjadi : “Akankah orang disekitarnya serasa mendapat sambaran petir di siang hari bolong?”

( Tapi ini hanya kejadian yang langka, bila dibandingkan dengan seorang suami yang mengerti dan turut terjun di daerah domestik rumah-tangganya. Semoga kita bukan merupakan bagian dari cerita ini. )



oggix.com : Free Shoutbox & Complete Blog Tools




You are not my doctor anymore, but ……

Oleh Dr. Anugra Martyanto




Sumber : public.kompasiana. com

29 Maret 2009



” You are not my doctor anymore, but……”

Ya sebuah kalimat yg mempunyai makna tersendiri buat bathinku yg paling dalam, sangat menyakitkan sekaligus sangat menyedihkan…..



Hari kamis kemarin saat memasuki long weekend minggu ini karena ada hari libur terjepit yaitu hari raya Nyepi, aku memutuskan untuk menebus sebuah kesalahan pada buah hatiku si kecil Amar, seperti yg kuceritakan pada artikel yg sudah ku postingkan pada kompasiana.com dg judul “harga sebuah waktu”, ada sedikit kelegaan hati ini setelah… aku, buah hatiku dan ibunya Amar pergi ke Hongkong, tepatnya Disneyland adalah tujuan utama putraku, sudah lama dia menginginkan datang ke dunia sahabat tidurnya boneka mickey mouse, dan minggu siang ini kami sudah kembali lagi di gubuk kecil nan asri untuk kembali menjalani rutinitas hidup kami, rasa lelah yg aku alami cukup membuat tulang tuaku merasakan pegal yg tidak bisa ku abaikan begitu saja, tapi lain halnya buat buah hatiku Amar yg begitu gembiranya karena telah mendapatkan keinginannya terwujud dengan ditambah bonus boneka barunya, ya sebuah boneka mickey mouse yg besarnya sama dg besar badan putraku yg berumur 5 tahun, inilah pemandangan terindah yg kulihat dari raut wajah kegembiraan hati putraku Amar,” terima kasih ayah…, Amar sangat menyayangi ayah”, itulah ucapan putraku yg masih jelas hingga kini terngiang di gendang telingaku, sampai sore ini aku tertidur lelap mengobati nyeri tulang tuaku ini karena lelah selama perjalanan yg cukup panjang.



Tiba-tiba aku dikejutkan dering HPku yg kuletakkan di atas bantal kepalaku, dan kulihat nomor telepon dari rumah sakit, “selamat sore Dokter, ini suster Fatimah dari rumah sakit, apa Dokter sudah kembali ke rumah ?”, itu yg kudengar saat kuterima telepon itu, “ya sudah jawabku”, “Dokter, ini ada titipan surat dari pasien Dokter yg bernama Astrid Gracia, apa perlu kami antar kerumah ?”, “ada apa ya suster ?, kok pakai titip surat, kan besok saya sudah bisa visite ke Astrid seperti biasa “, ” tapi dok…”, percakapan kami terputus karena battery hpku habis.



Penasaran aku dibuatnya, tapi naluriku mengatakan ada sesuatu yg terjadi sepeninggal tour kami ke hongkong, lalu kuputuskan bergegas utk pergi ke rumah sakit sore ini, setibanya aku di rumah sakit langsung aku menuju ke kamar perawatan pasien gadis kecilku yg sangat istimewa, ya Astrid Gracia 12 tahun dengan diagnosis Osteocarsinoma at regio left elbow, stadium 3, ya pasienku ini menderita sejenis kanker ganas pada tulang di daerah sendi siku tangan kirinya yg sudah kami amputasi guna menyelamatkan nyawanya dari ganasnya jenis kanker tulang ini yg penyebarannya sangat cepat dan mematikan, terutama ke otak dan paru paru, ya sesuai prosedur tetap management kasus ini amputasi, radiasi dan chemotherapy.



Begitu kudapati kamar 9 ruang cempaka kosong, langsung kubertanya, "suster mana pasien saya ?", sambil menunduk suster Fatimah mendekatiku dan menyerahkan amplop kecil berwarna biru langit sambil berkata, "hari Jum’at kemarin tepatnya jam 15.10 setelah chemotherapy cure ke- 3, Astrid menghembuskan nafas terakhirnya dok, maafkan kami dok, kami tidak memberitahu Dokter, karena ini permintaan mamanya Astrid yg tidak mau mengganggu perjalanan Dokter bersama Amar", ya…memang keluarga kami sudah begitu dekat dengan keluarga Astrid, bahkan Astrid sudah aku anggap anakku sendiri, dan Amar putraku juga sangat dekat dg kakak perempuannya ini, ya kepada Amar kukatakan bahwa kak Astrid ini kakaknya…, Ya Allah, lemas terasa kaki dan lututku mendengar penyampaian susterku, bermacam perasaan berkecamuk dalam bathinku, tak kusadari aku terduduk di lantai putih ruang Cempaka ini dan langsung kuterima surat kecil itu dan langsung ku baca, yg isinya :



Buat Dokter Astrid yg sangat baik, dr. Anugra di rumah.

” You are not my doctor anymore, but you are my father and my angle…, yes my angle like star in sky and still twingkling for me in the day and the dark of night, forever it will be for me….”.



Dokter, ini puisi khusus buat Dokter Anugra, mungkin saat Dokter membacanya, Astrid sedang tour juga menuju rumah Astrid yg baru yg dipenuhi bintang-bintang yg berkelap kelip, Astrid ingat semua nasehat Dokter, bahwa Tuhan selalu sayang dg Astrid dengan ditandai bintang-bintang yg ada di langit, dan Dokter selalu bilang bila Astrid merasakan sakit pada siku ini, ingatlah pada bintang yg berkelap-kelip di langit, tempat para angle bermain melupakan kesedihan di hati, dan itu sudah Astrid lakukan, dan hasilnya memang benar sekali, setiap Astrid merasakan sakit yg sangat di siku, atau saat Astrid di-chemotherapy, Astrid selalu membayangkan bintang-bintang itu dan para angle yg datang menemui Astrid, hasilnya Astrid lupa dengan rasa sakit itu, dan Astrid ingin Dokter tahu juga, bahwa tubuh Astrid yg lemah ini hanya rumah kecil buat Astrid tinggal, walau siku Astrid sudah dipotong, tapi Astrid merasa rumah kecil ini semakin lemah, astrid tahunya mungkin disebabkan penyakit ini, tapi Astrid sudah memiliki rumah yg baru Dokter, ya rumah yg lebih indah, dan bisa disebut istana di surga Tuhan, rumah ini lebih abadi dan dihuni para bintang dan angle, makanya Dokter…, Astrid menginginkan segera pindah ke rumah yg baru ini, agar Astrid tidak hanya melihat bintang-bintang dan angle dari kejauhan, tapi Astrid bisa selalu dekat dengan mereka, terima kasih Dokter Astrid yg sangat baik, yg sudah menemani Astrid selama ini, semoga Dokter tidak marah setelah Dokter membaca surat dari Astrid ini.



Salam tersayang buat bintang, angle dan ayahku, Dokter Anugra Martyanto,



Ya….itulah surat yang bersampul biru yang kuterima dari pasien gadis kecilku yang bernama Astrid Gracia, pasien yang sangat tabah dalam menjalani hidup kanak kanaknya, begitu indah kurasakan kalimat yang tergores di suratnya itu, tapi juga menggores relung hatiku, ya…aku mendapat sebuah pembelajaran lagi dari seorang malaikat kecilku seorang pasien gadis cilik yang memberi makna sebuah kehidupan, ya dia mengajariku bahwa tubuh ini adalah rumah kecil buat singgahan sementara dalam kehidupan di dunia ini, bila rumah ini sudah tidak layak dihuni lagi seperti rusaknya bagian rumah ini akibat sebuah penyakit seperti yang diderita Astrid, maka kita pun harus pindah ke rumah baru yang lebih abadi yaitu rumah di surga milik Tuhan yang akan memberikan kesempurnaan dalam menjalani kehidupan yang abadi.



Makna kehidupan yang selama ini kulihat dari sudut pandangku sebagai dokter ahli kanker, hanya seperti sebuah pelayanan yang kuberikan untuk melayani orang-orang yang sangat kukasihi, ya buah hatiku, istriku dan semua pasien pasienku, saking ingin menyikap seluruh rahasia dalam keilmuanku, apa kiranya penyebab dari semua penyakit kanker yang mematikan ini, aku terus belajar dan belajar guna mencari jawabannya, dengan mendalami teknologi biomolekuler aku berharap dapat menemukan jawaban atas kebodohanku ini, tapi makin aku mencari semakin jauh jawaban atas kebodohanku ini, aku terlalu hanyut akan obsesiku yang ingin menemukan penyebab dari penyakit kanker ini, agar setidaknya aku bisa melawannya dengan pengetahuan ini dan berharap semua penyakit pasienku dapat sehat kembali dan kembali kepada hak hidup yang selayaknya mereka nikmati dan mereka jalani, aku hanya melihat bahwa ada yang salah dalam perkembangan sebuah sel tubuh dalam perkembangannya, sehingga menjadi kanker yang menggerogoti tubuh induk semangnya yang dijadikan tempatnya bertumbuh, semakin dalam aku mencari penyebabnya semakin lelah aku dibuatnya, dan selangkah aku menemukan titik terang, tapi seribu langkah penyakit kanker ini berkembang melesat di luar jangkauanku menahan pertumbuhannya hingga merenggut nyawa sebagian pasien pasienku. Inilah kesombonganku atas sebuah obsesi dalam menyikap rahasia si pemilik Hidup, seolah aku mengibarkan bendera perang terhadap-Nya, yang menciptakan kanker dengan segudang amunisi berupa keganasan yang menggerogoti sel tubuh lainnya, aku sempat menyalahkan Tuhan atas semua ketidakadilan ini……inilah kelemahan terbesarku, aku lupa bahwa ilmu manusia tidak sebanding dengan si pemilik Hidup, dan terlalu naif aku untuk mengakui ini semua.



Tapi setelah aku membaca surat dari pasienku sekaligus anakku Astrid Gracia, dia begitu pandainya memaknai sebuah arti kehidupan, dia mencerna semua nasehat-nasehatku akan kebesaran Tuhan dengan ciptaannya bintang-bintang dan angle yang selalu menemaninya dikala ia merasakan sakit yang amat sangat selama ia menderita kanker tulang ini, juga saat ia merasakan sakitnya yang sangat saat dilakukan pengobatan chemotherapi dan radiasi, ya semua itu dilaluinya tanpa dendam dan prasangka buruk kepada si pemilik Hidup, begitu pandainya Astrid kecilku ini menerima penyakit dan penderitaan tubuhnya dengan mengumpamakan bahwa tubuhnya adalah rumah kecilnya tempat ia singgah menjalani kehidupan sementara dalam dunia ini, walaupun ia tahu begitu lemahnya tubuh ini sehingga ia harus menerima kondisi sakitnya dengan tabah dan ikhlas sehingga rasa sakit yang dirasakannya merupakan sebuah keindahan dan kasih sayang Tuhan kepadanya, yang telah menyediakan rumah baru bahkan istana megah di Surga yang lebih kekal dan abadi.



Terima kasih malaikat kecilku, selamat jalan ke rumah barumu, Ayah tidak pernah menyesal telah merawat sakitmu dan Ayah minta maaf sebesar-besarnya atas keterbatasan ilmu yang Ayah miliki karena tidak bisa menyembuhkan penyakitmu, ternyata Astrid malaikatku adalah professor yang paling pandai yang pernah Ayah temui selama proses Ayah menuntut ilmu, ya guru besar yang sangat jenius dalam memberi pembelajaran yang sangat berarti dalam memaknai sebuah kehidupan, dan Ayah juga minta maaf atas nama pribadi, Amar adikmu dan Ibundanya, karena Ayah tidak ada di sisimu saat Engkau pindah ke rumah barumu, tapi Ayah yakin seandainya saat itu fisikmu memungkinkan pastilah Ayah akan mengajakmu ke Disneyland kota indah impian buat Amar dan anak-anak lainnya, tapi saat ini kamu sudah menemukan kota indah itu di Sorga sana……



Salam tersayang buat malaikat cilikku Astrid Gracia, kami semua sangat mencintai dan menyayangimu sampai kapanpun.



Salam dari kami, Anugra Martyanto. Adik Amar dan Bunda Kania.

oggix.com : Free Shoutbox & Complete Blog Tools




Guest Book

Please Chek and sign on my guest book

Kata-Kata Bijak

* Orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang menganggap teguran
keras baginya lebih lembut daripada sanjungan merdu seorang penjilatyang berlebih-lebihan.

* Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi lihat apa yangdisampaikannya (Ali R.A.)

*“Haji itu bukan status, bukan yang sudah haji derajatnya lebih tinggi dibanding yang belum haji. Bagi si fakir yang tak mampu, sholat jumat pun pahalanya sama dengan naik haji”

*"Senyum biayanya lebih kecil dibanding dengan listrik, tapi dijamin lebih banyak cahayanya" (GusMus)

*"Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah untuk mendahului orang lain,
tetapi untuk melampaui diri kita sendiri,
untuk memecahkan rekor kita sendiri,
dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini"
(Stuart B. Johnson)

*“Ada rasa sepi yang menggigit hatimu ketika sendiri. Itu berarti engkau telah mengabaikan kehadiran Allah di hatimu. Apakah Allah masih berjarak dengan dirimu?”

* “Apakah kemarin dan hari ini anda sudah memohonkan ampunan orang lain? Mendoakan mereka? Jika belum segeralah, karena jika anda baik, orang lain buruk, anda juga terkena imbasnya”

*"Hal terbaik yang dapat Anda berikan kepada orang lainadalah kesempatan"

*"Orang yang tidak bisa memaafkan orang lain
sama saja dengan orang yang memutuskan jembatan yang harus dilaluinya,karena semua orang perlu dimaafkan. "(Thomas Fuller)

* Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai.
( Schopenhauer )

* Kita berdoa kalau kesusahan dan membutuhkan sesuatu, mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan saat rezeki melimpah.
( Kahlil Gibran )

* Kita tidak minta untuk dikenali dan menjadi sesuatu,karena selagi kita menginginkannya, maka kita masihbelum lagi sempurna.

* Jadilah seperti lilin yang menerangi dunia, walau dirinya sendiri terbakar karenanya. Jadilah seperti jarum, selalu bekerja telanjang (padahal ialah yang membuat pakaian)
(Gusmus)

* Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu

* Berulangkali, jutaan kali Takbir bergema dari bibirmu. Tapi nyatanya sebanyak itu pula kau anggap makhluk lebih besar dibanding Allah, siapa sebenarnya anda?

*"Ilmu adalah harta yang tak akan habis walaupun sering diberikan"